Uro-Uro dan Nenek Penjual Sapu Lidi

Sudah sebulan lebih saya menganggur di rumah. Usaha yang tahun lalu dibangun bersama beberapa teman bisnis di Jakarta mengalami beberapa kendala dan rupanya sangat sulit untuk menyelesaikannya sehingga kami memilih bubar. Praktis, saya jadi punya banyak waktu luang. Saya sendiri baru akan bekerja kembali bulan depan di sebuah perusahaan konsultan di Bandung.

Terlepas dari kekhawatiran beberapa teman, jujur saja, saya sangat menikmati waktu luang semacam ini. Walaupun terkadang bosan, saya bersyukur dan menganggap ini berkah : saya jadi mempunyai banyak waktu untuk membaca buku-buku yang dulu tak sempat saya baca walaupun saya ingin, bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman terkait banyak hal kekinian, belajar bahasa Belanda yang dulu sempat putus, dan yang paling saya syukuri adalah berkumpul dengan keluarga. Hujan yang turun beberapa hari ini juga membantu mood saya untuk menulis (lagi) muncul. Saya jadi teringat suasana hujan yang turun sore hari di kampung (Blora, kampung saya sangat panas) membuatnya menjadi sangat sejuk dan mampu membuat saya terus-menerus memandang ke luar jendela. Sangat tenteram.

Hari ini seperti biasa sehabis mengantar adik ke sekolah, saya sarapan sambil menonton acara berita di televisi. Tak betah dengan berita-berita yang monoton, saya beberapa kali mengganti channel dan berharap mendapatkan acara yang menghibur. Betapa bosannya melihat berita soal Ahok dan Pilkada Jakarta (termasuk kasus Sumber Waras dan Reklamasi dengan segala macam intriknya), Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, Panama Papers, Jokowi yang hobi “berkeliling” sedang isu reshuffle juga tak kalah “berkeliling” diantara partai-partai (yang katanya) pendukung pemerintah, kelompok teroris Santoso dan kelompok teroris Abu Sayyaf, teror bom ISIS, hingga soal Madrid yang menang besar. Saking seringnya mengganti-ganti channel, sarapan saya lahap pelan sekali.

laparpolitik

Di tengah kegiatan “baper” tersebut, ada suara samar-samar dari kejauhan. Rupanya suara itu berasal dari seorang nenek yang menjual sapu lidi – yang jumlahnya masih banyak, yang ia gendong di punggung rentanya. Sambil bernyanyi “Sapu~ Lidi~” dengan nada khas Sunda, sang nenek berjalan pelan. Bagi kami orang Jawa, nyanyian semacam ini biasa kami sebut uro-uro.

Uro-uro ini sebenarnya punya banyak pengertian. Ada yang menyebut, uro-uro semacam nyanyian tanpa alat musik pendamping, namun ada juga yang menyebut nyanyian yang diiringi alat musik sebagai uro-uro juga. Biasa dinyanyikan saat pesta rakyat atau kegiatan-kegiatan lain di masyarakat Jawa. Pada zaman penjajahan, uro-uro sering dinyanyikan untuk sekedar menghapus kesedihan akibat penindasan yang luar biasa pada saat itu. Mirip-mirip dengan nyanyian “orang-orang kulit hitam” yang jadi budak “orang-orang kulit putih” dan dikatakan sebagai kaum tertindas. Belakangan menurut sejarah, inilah asal-muasal musik Jazz sebagai pertahanan hidup dan ekspresi kehidupan mereka saat itu.

Karena saya kurang paham, saya pernah bertanya pada Mbah Kyai / Tetua kampung tentang makna uro-uro. Beliau sendiri menjawab normatif. Seingat saya Mbah Kyai menjawab bahwa makna uro-uro adalah semacam “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, bahwa apa-apa yang ada di dunia – yang diaku-aku oleh manusia, adalah milik Tuhan termasuk manusia itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tak punya daya apapun. Ada pula yang menyebut bahwa manusia hidup dalam kemiskinan mutlak. Kemiskinan mutlak inilah yang akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan yang abadi berupa “manunggaling kawula Gusti”. Bukankah kita sering mendengar petuah Bung Karno bahwa “…Tuhan  bersemayam di gubuknya orang-orang miskin” ? (kalimat ini sangat menarik untuk dibahas, karena saya pikir maknanya bukan hanya secara fisik materialis, tapi juga pemahaman spriritual manusia bahwa ia benar-benar miskin dan tak punya daya di hadapan Tuhan).

rId9

Mbah Kyai mengatakan bahwa uro-uro adalah “kebahagiaan”nya orang Jawa. Pada uro-uro, orang-orang bebas bernyanyi mengungkapkan perasaannya, baik saat gembira atau sedih, kaya atau miskin, saat damai atau sedang berkelut dengan perasaan. Akhirnya, mengembalikan dan mengantarkan mereka pada penemuan hidup. Jadi uro-uro punya makna yang luas dan dalam. Saya pikir daerah lain juga sama, hanya istilahnya berbeda. Pun masyarakat modern sekarang, saat ia penat – misal dengan rutinitas pekerjaan yang tak ada habis-habisnya, ia bersenandung entah lewat lirik “Sementara”nya Float, atau “The Scientist”nya Coldplay, atau “Tidurlah”nya Payung Teduh.

Dan pada saat mendengar “uro-uro” sang nenek penjual sapu lidi, buat saya, semuanya jadi senyap dan hambar. Sarapan dan berita-berita yang lalu-lalang di televisi, kicauan burung dan suara mesin motor yang saya dengar sebelumnya mendadak hilang. Benarlah kawan, kita masih punya rakyat yang hidup dengan kondisi seperti ini. Suasana yang membuat saya mengernyitkan dahi, di tengah harapan dan kekhawatiran – bukan pada hari esok, tapi pada sapu lidi yang akan sang nenek jual hari ini.  Dan “kita” masih berkutat soal demokrasi atau khilafah, muslim dan non-muslim, membid’ah dan mengkafirkan orang lain.

Saya bertanya-tanya : apakah ini “surga” yang kita bentuk? bukan pada surga yang dijanjikan Tuhan untuk hamba-hambaNya yang terpilih, namun pada surga yang akan kita bentuk di dunia untuk kita sendiri.

Angan-angan saya kembali ke suasana hujan yang turun sore hari di kampung. Saya mengingatnya, ketika memandang ke luar jendela, memandang langit, memandang anak-anak kecil berlari-lari bermain hujan-hujanan dengan gembira. Sayup-sayup terdengar suara dari dapur. Mbah, rupanya sedang bersenandung : uro-uro, dengan penuh kebahagiaan menyambut hujan yang sudah lama tidak turun – yang sudah lama dinanti. Sangat tenteram dan damai.

Terimakasih nenek penjual sapu lidi, sarapan nasi kuning saya jadi hambar rasanya.

Cirebon, 13 April 2016

sodo

**

Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walid bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas air mata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”

Rasulullah menjawab : Camkan makna ayar ini : qul inkuntum tuhibbunallah fattab’uni – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosanmu, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah?”,

Rasulullah menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka”.

**

  • Kami adalah sisa-sisa/
  • Yang berhijrah, bersemayam kelam/
  • Wahai, savana/
  • Diasingkan dan tertelan dunia/
  • Serta malam/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s