Akankan Cirebon Menjadi Jakarta Selanjutnya?

Tiga tahun lalu, Pemerintah Kota Cirebon diwakili Dinas Pekerjaan Umum menyatakan Cirebon akan bebas banjir pada tahun 2012. Setahun kemudian hal itu tak benar-benar terwujud. Pekan lalu, tepatnya 14 Januari 2014, Kota Cirebon benar-benar lumpuh selama beberapa jam akibat hujan deras yang menggguyur selama kurang lebih empat jam sehingga menyebabkan sebagian besar wilayah Kota Cirebon tergenang banjir, tak terkecuali jalan-jalan protokol. Air baru surut menjelang dini hari.

Yang musti dipahami benar adalah bencana banjir bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Banyak faktor yang menyebabkan suatu wilayah – yang sebelumnya tidak pernah tergenang, banjir. Peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan, sistem drainase yang buruk, atau berkurangnya lahan resapan air.

Sebelum itu, ada baiknya kita berkaca pada kasus banjir di Jakarta. Jakarta sendiri mempunyai sejarah banjir yang panjang. Penelitian baru-baru ini yang dilakukan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan JCDS (Jakarta Coastal Defence Strategy) menyebutkan bahwa terdapat empat faktor utama yang menyebabkan Jakarta banjir : (a) Limpasan dari wilayah hulu akibat lahan resapan yang semakin berkurang, (b) Curah hujan yang tinggi, (c) Turunnya permukaan tanah akibat pengambilan air tanah yang tak terkontrol, dan (d) Naiknya level permukaan air laut. Di samping itu, tidak berfungsinya sistem drainase dengan baik akibat sedimentasi dan pendirian pemukiman liar memperparah kondisi di Jakarta.

Agaknya situasi yang sama juga dihadapi Cirebon akhir-akhir ini. Wilayah ‘hijau’ Kuningan berganti menjadi restoran, penginapan dan perumahan menyebabkan air limpasan semakin meningkat. Sementara pembangunan gedung dan mall-mall di Kota Cirebon juga membuat air kehilangan tempat tinggal untuk terserap ke dalam tanah. Peningkatan intensitas hujan seperti yang terjadi pekan lalu yang hanya berlangsung selama empat jam mampu membuat Cirebon lumpuh. Sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik sering kita lihat di perempatan Grage dan sekitarnya memperparah keadaan.

Isu penting lainnya adalah mengenai ketergantungan pasokan air bersih Kota Cirebon pada sumber mata air Cipaniis di Kuningan yang membuat masyarakat yang tidak ‘terjamah’, terpaksa mengambil air tanah walaupun ada rasa asin dan keruh. Pengambilan air tanah secara terus-menerus dan tak terkontrol ini akan terasa dampaknya satu dekade dari sekarang.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi di Cirebon? Professor Musiake dari Universitas Tokyo menyebut Urbanisasi dan Pemanasan Global sebagai akar masalah berbagai macam bencana, khususnya bencana banjir. Ada relevansi antara keduanya dengan meningkatnya frekuensi bencana banjir. Dalam kasus di Cirebon, intensitas dan frekuensi bencana banjir meningkat dan telah mempengaruhi area yang lebih besar serta mengakibatkan kerugian yang lebih banyak.

Kota Cirebon dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional. Hal ini tak terlepas dari fungsi Kota Cirebon sebgaai Kota Transit, Barang, dan Jasa. Kota Cirebon menjadi pusat aktifitas perdagangan, keberadaan pusat dna simpul transportasi laut, darat, dan udara. Sehingga Kota Cirebon mengalami pertumbuhan di berbagai sektor. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya pembangunan gedung, mall, serta perumahan baik di wilayah Kota Cirebon maupun daerah pinggirannya.

Bagaimanapun, ini merupakan tugas Pemerintah Daerah beserta Dinas terkait untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan bencana banjir. Memang hampir semua wilayah di Pantai Utara Jawa mengalami hal serupa dan diakui tahun ini adalah tahun yang buruk. Namun jangan lupa bahwa pada dasarnya wilayah Pantai Utara Jawa (dan seluruh kawasan delta di belahan dunia manapun) memang rentan terhadap bencana banjir. Modal inilah yang dapat digunakan untuk pencegahan.

Tak perlu mengatakan kejadian ini adalah tanggung jawab bersama, apalagi menyalahkan curah hujan yang tinggi akibat pemanasan global – bahwa kejadian ini terjadi di berbagai belahan dunia manapun. Kebijakan-kebijakan terkait pembangunan mall-mall dan gedung tinggi perlu mendapat perhatian, pemeliharaan drainase serta kebijakan perencanaan jangka panjang yang harus dibenahi. Apakah yang dilakukan sudah cukup dan bagaimana implementasi dari komitmen-komitmen tersebut. Sebab pada kenyataannya, belum ada hasil signifikan dalam pengurangan potensi banjir dari tahun ke tahun : Pemerintah daerah harus berinisiatif.

Hal yang musti dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan Dinas terkait adalah melakukan investigasi secara detail dan mendalam mengenai penyebab banjir di Cirebon (bukan mengira-ngira). Membuat masterplan yang komprehensif – yang terdiri dari perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, lengkap dengan prioritas penanganan sesuai dengan dana yang dimiliki. Jika tidak mampu, undang pihak swasta tanpa kongkalingkong. Lalu beri penjelasan kepada masyarakat tentang rencana tersebut agar masyarakat mengerti bahwa perlu prioritas penanganan.

Walaupun terdapat perbedaan, melihat Cirebon sekarang tampak seperti Jakarta pada era 1990-an. Bukan tidak mungkin Cirebon akan menjadi Jakarta selanjutnya yang mempunyai masalah banjir, kemacetan, dan permukiman yang kritis serta tata kota yang tidak teratur. Apa yang kita lihat sekarang soal lingkungan yang semakin hancur bukanlah apa yang sebenarnya terjadi – bahkan itu lebih buruk dari apa yang kita perkirakan. Dan kita seharusnya tahu dan kembali mengubah pola pikir : manusia memang harus hidup bersinergi dengan alam.

1Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Gunadarma

 

Banjir Cirebon 14 Jan 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s