Pendidikan Mitigasi Bencana

Sebagaimana yang kita ketahui musim hujan telah tiba. Kita tahu cukup dengan membaca tanda-tanda alam : gemuruh, angin, dan hujan turun secara berkala. Lalu ramai di media-media dan jejaring sosial tentang banjir, angin ribut, dan gelombang ombak yang tinggi. Terutama tadi malam, saat hujan deras diselingi gemuruh petir selama hampir empat jam yang saya rasakan di Depok. Saya berpikir, sudah pasti wilayah Jakarta Utara akan banjir dan saya teringat tentang isu kota Jakarta akan tenggelam.

Isu Kota Jakarta akan tenggelam menjadi topik yang hangat sejak tahun 2002 di mana pada saat itu terjadi bencana banjir yang hampur menyelimuti setengah wilayah Jakarta. Jika tidak ada terobosan hingga tahun 2050, 40% wilayah Jakarta akan tenggelam. Berbagai macam ide berkumpul jadi satu membahas bagaimana menangani banjir Jakarta. Kalau bisa setali tiga uang  dengan masalah kronis Jakarta : macet dan permukiman kumuh!

Biarlah urusan teknis kita serahkan kepada yang lebih ahli. Jakarta sudah penuh dengan rencana-rencana yang luar biasa. Kita hanya perlu menyimak keadaan, jika ada yang tak beres dengungkan dengan pertanyaan yang tepat. Walaupun saya bukan penduduk asli Jakarta, saya secara pribadi senang dengan progress yang ada sekarang. Permasalahan Jakarta yang kompleks memang tidak bisa diselesaikan bahkan dalam waktu lima tahun.

Namun di sini, kita akan berbicara tentang hal yang lebih luas – suatu hal yang musti kita sadari bahwa Banjir Jakarta sebenarnya hanyalah satu dari sekian banyak bencana yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan secara geografis sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana yaitu bencana alam (natural disaster) dan bencana akibat perbuatan manusia (man-made disaster) seperti dampak negatif dari kemajuan teknologi, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dan akibat konflik sosial maupun politik (Burhanudin, 2001). Studi yang dilakukan oleh Yusuf dan Fransisco tahun 2009 terkait perubahan iklim menunjukkan bahwa wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara menduduki peringkat teratas sebagai wilayah yang paling rentan terhadap bencana di Asia Tenggara. Belum lagi kota-kota lainnya di Indonesia.

rawan bencana indonesia

Pemahaman ini masih sangat terbatas di kalangan masyarakat kita. Saya tak paham apa karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat atau karena 134 juta masyarakat kelas menengah (menurut laporan BI) Indonesia – yang mampu beli gadget canggih, seolah-olah apatis dan hanya mampu berkeluh kesah lewat media sosial. Tetapi tentu kita apresiasi ide-ide yang muncul dari media sosial lewat gerakan-gerakan sederhana tentang penyelamatan lingkungan.

Namun saya justru lebih condong memperhatikan tentang kurangnya pendidikan mitigasi bencana di Indonesia. Padahal jika dibandingkan dengan Jepang, potensi bencana Indonesia jauh lebih besar. Dari peta wilayah bencana kita bisa melihat betapa besarnya potensi bencana yang ada di wilayah Indonesia dan sudah banyak yang terjadi : kehilangan harta benda dan yang paling menyedihkan kehilangan nyawa. Kalau sudah seperti ini, jujur saja akan bingung menyalahkan siapa karena Pemerintah juga masyarakat mempunyai turut andil yang sama. Masyarakat berperilaku pasif, sedangkan pemerintah juga terlihat lamban.

pic1

Untuk persoalan seperti ini, ada baiknya jika terdapat pendidikan mitigasi bencana dalam kurikulum kita dimulai dari sekolah, setidaknya sekolah menengah pertama atau yang sederajat. Mereka – anak-anak kita musti diajarkan bahwa Indonesia tidak hanya mempunyai bentang alam luas yang menyimpan kekayaan yang tak habis tujuh turunan, tapi juga mewarisi berbagai bencana alam yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Pendidikan mitigasi bencana seperti ini dapat dibuat se-fleksibel mungkin. Materi yang diajarkan kepada siswa-siswa berupa bencana alam yang mungkin terjadi di Indonesia dan reaksi cepat tanggap secara umum. Lalu fokus kepada bahasan bencana alam yang biasa terjadi pada daerah tersebut misal, Sepanjang pantai barat Sumatera : gempa dan tsunami. Jakarta, Tangerang dan Bekasi : Banjir dan gempa bumi, dan seterusnya. Tentu hal ini juga harus terintegrasi dengan peningkatan program mitigasi bencana lainnya. Sehingga diharapkan bisa mencegah kerusakan harta benda bahkan menyelamatkan nyawa manusia.

Sebuah konsep “Forest is mother of the sea”. Materi yang nanti diajarkan sebisa mungkin tidak membebani pikiran mereka, namun diharapkan dengan adanya pembelajaran seperti ini mereka tidak menutup mata bahwa mencegah memang lebih baik dari mengobati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s