Puisi Gerimis Senja Untuk Adlina

Hujan Gerimis

Puisi ini aku tulis untukmu, pada saat kemarin saat hujan turun senja hari di Kelapa Dua. Tetapi belum selesai. Barulah malam ini kuselesaikan. Setelah tadi melihat senyummu dari dekat dan muncul kata-kata sambil bernyanyi.

Puisi Gerimis Senja Untuk Adlina

 

Jam enam lalu hujan tipis turun pelan

Pada jalan dan melewati sela-sela jendela

Membawa udara pada tubuhku yang telah habis kepala dua

Dan aku (yang baru bangun) baru saja memimpikanmu, manisku

 

Namun gerimis senja ini bukan untukku

Mereka menyapamu karena rindu sama seperti aku

Seperti barisan rintik-rintik membentuk kala

Serta dedaunan yang menari-nari lalu jadi syahdu

 

Sayup-sayup suara motor berhenti di selasar

Ada yang memaki dan mencaci

Buru-buru hanya akan jadi debu kataku

Karena angin diam di pepohonan – tanda gerimis akan lama

(Itu yang kumau karena aku senang hujan)

 

Manisku,

Akankah kau selama (gerimis yang turun) ini merindukanku juga

Ketika awan bersentuhan dengan ufuk timur laut

Seperti tangan kita tadi malam

 

Akankah senyum itu jadi milikku

Yang membuat aku tenang dan jalan sekalipun tak lurus

Yang hangat seperti bubur Mohammad Toha saat aku pulang kemarin

 

Sebatang rokok menemaniku hingga adzan datang

Lalu anak-anak kecil berlari dengan payung menuju mushala

Seakan mengajak kami

“Mari bersama, bertemu dengan Sang Waktu” dengan tawanya

 

Dan tak ada yang perlu kutakutkan

Aku adalah debu (yang terpecik rintikan)

Semoga rasa ini suci, padamu

**

Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s