Diskusi Kereta, 4 Desember ’12

tumblr_mdmzvc0SAA1r7cddso1_500Sewaktu di perjalanan menuju Jakarta kemarin, menggunakan Cirebon Ekspress saya duduk di gerbong nomor 3 dan kursi yang letaknya paling belakang, 1A. Suasana hujan saat itu. Saya memasuki gerbong paling terakhir karena saya malas berdesak-desakan saat masuk kereta. Kereta berangkat jam 18.20 WIB.

Di sebelah saya ada orang asing, laki-laki berumur 30an ke atas. Kami tidak berbicara sama sekali pada awalnya. Kami sama-sama sibuk : beliau membaca koran sambil mendengarkan musik lewat headset, sedangkan saya membaca majalah. Sampai akhirnya ketika saya membuka notebook dan berselancar di internet.

Obrolan itu dimulai hanya soal spek notebook yang saya nyalakan. Dia bertanya dan saya menjawab. Kepada para pembaca, ini bukan cerita dua orang gay/homo yang suka sesama jenis. Saya harus tekankan itu. Tetapi dari pembuka obrolan itu, kami jadi banyak berdiskusi tentang masalah negeri ini. Ternyata banyak ilmu dan pengalaman yang bertebaran di sekeliling kita itu benar adanya. Sayangnya kita tidak – walau sedikit, berusaha untuk mendapatkannya.

Kembali lagi. Kami mulai membuka obrolan dengan tema notebook yang belakangan dengan harga yang lebih murah sudah mendapatkan spek dan kemampuan grafik yang baik. Rupanya dia adalah pekerja kantoran lulusan Teknik Industri yang nyasar kerja di bidang IT. Jadi kami nyambung saja. Karena urusan grafik lebih kurang saya tahu (sedikit…hehe).

Lalu kami mulai berbicara tentang fenomena kemacetan di Jakarta – yang kita tahu sangat rumit. Entah apa hubungannya spek notebook dengan kemacetan, saya lupa bagaimana bisa mengarah ke sana karena obrolan mengalir terus. Saya menceritakan bahwa saya sendiri pernah melakukan studi terkait kemacetan di Jakarta dengan analisis dasar : IO, SWOT, sebab-akibat dan AHP. Dari studi tentang kemacetan itu, ternyata lebih kompleks daripada yang saya perkirakan. Beliau membalas dengan mengiyakan. Tetapi tidak bisa saya jabarkan di sini karena cukup banyak (Insya Allah akan saya buat artikelnya).

macet-jakarta121129c

Jika satu masalah telah diselesaikan, maka akan muncul masalah baru. Kita bisa ambil contoh dari TransJakarta, ide hebat dengan anggaran besar tetapi tetap tidak bisa memecahkan kemacetan Jakarta. Seperti yang dikatakan di atas bahwa satu faktor utama dengan yang lain saling berhubungan erat. Satu masalah juga belum tentu bisa diselesaikan.

Namun dari obrolan kami malam itu, kami setuju satu hal. Jika Jakarta menginginkan kemacetan dapat dikurangi secara drastis dan cepat – setidaknya 2-3 tahun. Pilihan satu-satunya ada pada pemerintah pusat : menaikkan harga BBM. Bagaimanapun saya tidak munafik. Saya sependapat dengan apa yang dikemukanan Alm. Prof. Widjajono (Mantan Wakil Menteri ESDM) bahwa negeri kita terlalu bergantung kepada BBM. Fenomena kemacetan di Jakarta ini adalah masalah sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Dan dari bidang-bidang itu ada cabang-cabang lagi yang lebih banyak.

Intinya sih, kalau mau menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta, solusinya semua rencana harus terintegrasi dengan baik. Tetapi kan sulit, karena terhambat di banyak hal : birokrasi, KKN, hal teknis, hingga masyarakatnya sendiri yang memang sulit diatur. Padahal untuk dana kan nggak masalah, APBD DKI Jakarta tahun 2012 Rp. 138 Triliun.”, ucap saya kala itu.

Lamun maneh jadi PNS dan bilang gitu (pesimis duluan), bakal dipecat sama Jokowi..haha.”, ucap kawan saya sambil tertawa. Saya membalasnya hanya dengan senyuman dan memang begini apa adanya toh. Ke-pesimis-an saya juga dengan alasan yang evident.

Tetapi menurutnya adalah hal yang tidak adil bagi rakyat untuk menerima kenaikan harga BBM di tengah keadaan ekonomi mikro yang sedang baik-baiknya. Kita tahu salahsatu faktor utama Indonesia bisa bertahan dari krisis moneter tahun 2008 – yang menghancurkan perekonomian Amerika Utara dan Eropa, adalah ekonomi mikro kita. Dan krisis sekarang masih berlanjut, bahkan menghancurkan Yunani, Spanyol dan Itali. Perlu ada ketahanan soal hal ini.

Untuk ke-terlalu bergantungannya Indonesia terhadap BBM memang patut disayangkan. Kawan saya ini berpendapat, semua ini salah pada kebijakan pemerintah. Artinya pemerintah yang musti bertanggung jawab. Bukannya oran-orang kaya yang punya mobil mewah yang membeli premium – ini hanya masalah moral saja.

Apa yang tidak ada di Indonesia?.”, ucap beliau. Saya mengangguk setuju, juga pada pendapat Alm. Widjajono bahwa Indonesia mempunyai banyak sumber daya lain, seperti gas, panas bumi dan kelapa sawit. Tampaknya almarhum tahu benar pada masa yang lalu Indonesia pernah membuat kesalahan besar dengan kebijakan energinya.

compact_kilang_tangguhSaya mengatakan kepada kawan, saya juga pernah studi terkait Blok Tangguh di Papua – kilang minyak terbesar di dunia saat ini. Cadangan gasnya ditaksir bisa untuk 100 tahun ke depan (144 triliun kaki kubik). Sayangnya, BP Migas – yang seharusnya bisa memberikannnya ke Pertamina, memberikannya ke British Petrolum, salahsatu empat perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia. Alasan yang paling mendasar karena biaya eksplorasi Blok Tangguh US$ 5 Miliar yang dilakukan British Petroleum dan Indonesia belum memiliki teknologi itu (?).

Padahal, BP Migas yang ide awalnya muncul dari mantan Presiden B.J. Habibie dan diresmikan saat Megawati berkuasa, 2002, bertujuan menggaet anak-anak negeri yang expert soal minyak dan gas agar bisa memanfaatkan gas dan minyak yang ada di dalam negeri sendiri. Pak Habibie ingin bangsa ini mandiri.

Kawan saya bercerita mempunyai paman yang bekerja di salahsatu perusahaan petroleum asing (tidak saya sebutkan nama dan tempat). Sewaktu itu, ada tender mengenai suatu kilang dan terjadi kompetisi yang tidak sehat di sana.

Rasa nasionalis pada saudara saya itu hilang perlahan.”, kawan saya berhenti sejenak untuk meneguk air putih. Lalu melanjutkan,

Kemarin pas ada tender sumur (sensor), malahan dia berani taruhan sama saya de. Kalau sampai sumur itu jatuh ke (perusahaan) negara, dia bakal ngasih saya uang 10 juta. Padahal posisinya mereka ‘kalah’.”,

Trus?.”, saya bertanya penasaran.

Ujug-ujugnya mereka yang menang. Saya musti traktir paman saya.”,

Gaji saya ini aja cuman 1% dibanding gaji paman saya di sana!.”, tegas sang kawan.

Well, banyak pula faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan di sana, baik di kisah kawan saya tadi atau di Blok Tangguh. Saya tidak akan bahas terlalu jauh karena kepentingan-kepentingan besar sekelilingnya membuat saya gemetar.

Tetapi ingin saya perjelas di sini bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk bersuara tentang kejadian/masalah/fenomena yang ada di bumi pertiwi kita. Apakah termasuk berpendapat tentang, misal, Blok Tangguh atau Plesiran anggota DPR ke Luar Negeri ?. Jelas Ya. Kita bayar pajak dan segala hal. Setelah melaksanakan kewajiban warga negara yang baik menurut undang-undang, kita bisa menuntut hak kita kepada pemerintah.

*

Jadi kembali pada kemacetan Jakarta, seharusnya pemerintah yang harus menjemput bola. Mau tidak mau, harus membuat kebijakan yang luar biasa ‘tegas’. Mengapa? Karena dari masyarakatnya sendiri yang sudah diberi wilayah untuk proaktif tidak dimanfaatkan.

Gaya bicara kawan saya ini begitu rapih dan terarah. Saya penasaran karena kalau sekedar karyawan biasa, tidak sampai ke sana. Jadi saya bertanya, “Sebenarnya mas ini siapa?.”, sambil setengah bercanda. Muncullah jawaban : beliau dahulu adalah salahsatu aktivis di Kampus “Jatinangor”. Beliau juga salahsatu penggerak sewaktu kejadian ’98. Menariknya, saya dan laki-laki yang duduk di sebelah saya ini hingga berpisah di persimpangan Stasiun Gambir, tidak berkenalan secara nama.

Tetapi kami sama-sama paham (walaupun tak secara kasat mata) untuk tidak berkenalan satu sama lain. Obrolan itu saya sebut sebagai diskusi tanpa nama. Yang membuka pemikiran saya yang lain.

Untuk berdiskusi tentang permasalahan-permasalahan yang tengah dihadapai negeri ini bukanlah nama (orang) yang penting. Tetapi pemikiran-pemikiran yang tajam dan kritik yang mengalir sambil mencari solusi dari masalah tersebut. Kita tidak perlu menjadi ‘seseorang yang pantas’. Kita hanya perlu mengemukakan apa-apa yang ada dalam pemikiran kita untuk ditunjukkan.

Lalu pada akhirnya sebelum kami menutup obrolan malam itu, beliau mengatakan, “Kita, setidaknya sebagai orang yang pernah lahir di negeri ini, sejauh apapun kita menimba ilmu, kita harus tetap kembali dan mengabdi untuk negeri ini, dimana kita pernah makan dan berbagi pengalaman.”,

**

Setelah sampai di kamar kost saya yang pengap, saya merebahkan badan pada kasur tipis. Lelah sekali perjalanan dari Cirebon – Jakarta. Tetapi mengingat-ingat obrolan tadi di kereta, saya jadi ingin menulis.  Pada buku catatan saya :

Tidak perlu mati untuk membuktikan kecintaan kita pada Ibu Pertiwi. Dengan sendirinya rasa nasionalisme kita terpanggil ketika mendengar bahwa negara kita dilecehkan. Timbullah pertanyaan jika rasa itu tidak muncul.”,

Kitalah generasi muda yang tertelan oleh dunia. Kita musti bangkit. Tak perlu mengorbankan nyawa. Kita hanya perlu melakukan hal-hal kecil merubah negeri ini dari dalam. Dari nafsu yang serakah dan hasrat manusia yang tak bisa dikendalikan.”,

Namun jika dirasa itu belum cukup. Itu kembali pada kalian. Bahwa nyawa kita akan kita korbankan untuk Ibu Pertiwi. Jika itu adalah saya, maka saya sekarang akan berkata : Ya, saya bersedia mengorbankan nyawa saya demi kebaikan dan merubah negeri ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.”,

-05 Desember 2012-

 

mayor-oking-ka-4

 

 

# Penulis meminta kritik dan saran dari pembaca. Mohon maaf jika ada kalimat atau perkataan yang salah. Di sini, penulis tidak bermaksud offensif kepada pihak-pihak yang merasa ‘tersinggung’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s