Kini Bernama Ironi

Baru saja selesai menonton sebuah film Indonesia yang sangat bagus menurut pandangan saya. Setidaknya sebuah pelepas dahaga, kita sebagai orang Indonesia, di tengah keserabutan perfilman Indonesia yang kita tahu saat ini : film-film yang berorientasi pada profit, mengesampingkan moral bangsa, sebagian menakut-nakuti, dan sebagian lagi mengajarkan kebebasan yang keblabasan. Sungguh bukanlah budaya bangsa kita yang mengusung adat ketimuran.

Namun, kita patut tersenyum. Film-film jenis itu – yang menguasai pasar perfilman Indonesia beberapa tahun lalu, mulai berkurang. Ditandai dengan munculnya sebuah film fenomenal “Laskar Pelangi”. Lalu muncul pula film-film berkualitas lainnya : “Alangkah lucunya negeri ini”, “The Raid : Redemption”, “Sang Pemimpi”, “Sang Pencerah”, “Perempuan Berkalung Sorban”, “Kita Vs Korupsi”, dan lain sebagainya.

Tanah Surga, Katanya”, adalah film yang barusan saya tonton. Berkisah tentang seorang kakek mantan relawan perang tahun ’65 saat Operasi Dwikora. Salman , seorang anak laki-laki yang hidup dengan sang kakek – piatu yang ditinggal ayah dan adik perempuannya mengadu nasib di Malaisya. Anwar, julukannya dokter intel yang pindah karena tidak laku di kota besar. Astuti, guru yang tidak sengaja dipindahkan, dan berbagai peran lainnya.

Latarnya adalah sebuah kampung terpencil di perbatasan Indonesia-Malaisya. Kita juga telah sama-sama tahu kehidupan seperti apa yang ada di perbatasan. Kekuarangan tenaga pendidik, medis, penerangan. Ironinya mata uang yang mereka pakai adalah ringgit Malaisya, bukan rupiah – yang bahkan mereka tidak tahu bahwa rupiah punya pecahan lima puluh ribu.

Tulisan ini juga saya buat dalam rangka Hari Pahlawan yang sebentar lagi akan kita temui. Persamaan dalam kedua hal ini adalah masalah nasionalisme pada diri kita sebagai bangsa Indonesia. Bagaimanapun saya merasa berkewajiban mengubah negeri ini walau hanya lewat tulisan. Syukur-syukur bisa mengubah paradigma kita dan bisa membangun kampung-kampung di perbatasan.

“…right or wrong my country, lebih-lebih kita tahu, Negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru saat itu pula kita wajib memperbaikinya.”, -Prof. R. Soeharso-

Benar kawan, negeri kita sedang bobrok. Dan kita menyadari. Sayangnya kita tak menyadari dengan seluruh. Sekarang kita cenderung membayangkan, Kartini misalnya, dengan paras muka yang cerah dan cerita yang sebagian orang direspon dengan keramat. Ada rasa luhur pada diri kita, tapi sebenarnya tak cukup. Bahwa kita selalu terpikat pada kisah kepahlawanan.

Sayangnya, menurut Goenawan Mohamad, walaupun kita selalu kepingin mendengarnya kembali. Orang terkadang ingin menghentikannya tanpa tahu apa yang dilakukannya : orang tak sadar bahwa pahlawan mati untuk kedua kalinya – dan tak akan hidup lagi.

Kemarin sempat mengobrol dengan dosen. Berdiskusi terkait sebuah buku yang baru saja keluar dari Ikatan Alumni ITB. Buku yang beratnya kira-kira 1 kilogram itu, katanya didedikasikan untuk Alm. Widjajono. Ada ucapan menarik dari dosen saya.

Kedaulatan Energi Indonesia sudah tidak ada.”,

Sumber Daya Alam Indonesia dikeruk habis-habisan. Mungkin sebagian orang tidak sependapat dengan hal ini. Pertama, mereka adalah orang-orang pribumi yang punya kepentingan dalam menjalankan produksi. Kedua, orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan hal ini, mereka sudah mapan dan selama zona aman mereka tidak diganggu, mereka tidak peduli. Ketiga, orang-orang yang sama dengan golongan kedua, namun mereka hidup pas-pasan sehingga mereka memilih tak ambil pusing.

Padahal kewajiban kitalah meneruskan cita-cita pahlawan. Tertuang pula pada Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”. Kita bisa mempertanyakan kekayaan alam negeri ini yang dikeruk habis-habisan oleh pihak asing. Negeri kita hanya diberi sedikit loyalti, tanpa (kebanyakan kasus) memperhatikan kemakmuran dan kesejahteraan warga asli dan – jika boleh saya tambahkan, kampung-kampung di perbatasan.

Kau nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?. Karena kau menulis. Suaaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”, -Anak Semua Bangsa-

Masalahnya, kita selalu menunggu orang lain untuk jadi pahlawan. Karena mungkin zona aman kita belum terganggu atau kita terlalu pengecut untuk bersuara lantang.

“..bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yangs ehari-hari, yang barangkali dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.”, -Y.B. Mangunwijaya-

Sekali lagi, kita terlalu mudah berbicara.

**

Malaisya itu negeri yang makmur, Yah…”,

Negeri kita lebih makmur, Haris!”,

Jakarta yang makmur.”,

Bukan di sini. Kita ini di pelosok Kalimantan. Siapa yang peduli?.”,

Haris! Mengatur negeri ini tidaklah mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tahu kau!”,

Tapi apa yang ayah harapkan dari pemerintah?. Mereka tidak pernah memberikan apa-apa untuk ayah yang pernah berjuang di perbatasan.”,

Aku mengabdi bukan untuk pemerintah. Tapi untuk negeri ini, bangsaku sendiri!”,

*pertikan percakapan dalam film “Tanah Surga, Katanya”.

**

Sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati…” –Goenawan Mohamad-

Selamat hari pahlawan!

Catatan :

Tulisan ini sebagai bentuk dukungan pembaharuan kontrak karya dengan pihak asing yang sudah mengeruk habis-habisan sumber daya alam Indonesia. Pembaharuan kontrak di sini berarti mengganti beberapa pasal yang merugikan rakyat. Penulis sadar betul, Indonesia belum mampu mengolah sumber daya alam sehingga membutuhkan pihak asing sebagai pengelola. Akan tetapi, pemerintah juga musti mendorong sumber daya manusia Indonesia untuk mampu mengolah sendiri di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s