Gerimis, Kelam dan Perempuan Salemba

 

Sabtu pagi yang mendung sunyi. Sebagian orang mengatakannya sebagai sendu. Dalam persepsi saya menyebutnya kelam. Karena begitu saya keluar untuk cari sarapan dan terkena rintikan hujan (gerimis), saya merasa kalah. Entah kalah dari apa, karena apa. Atau mungkin, justru karena saya terlalu merindukan gerimis pagi di Salemba.

Namun, kerinduan terhadap gerimis pagi di Salemba esensinya bukanlah suatu kekalahan. Itu hanya bayangan manusia yang melihat keadaan dari berbagai sudut pandang dan menonjolkan salahsatunya : memilih bentuk yang paling diinginkan – untuk saya adalah kelam.

‘Kelam’ ini, juga secara tidak sadar – akibat pengalaman bagi sebagian orang , digunakan pada perihal cinta, termasuk saya sendiri. Akibatnya, setiap hal yang berhubungan dengan cinta yang dirasakan adalah ‘kelam’. Padahal cinta bukanlah kelam.

Mungkin ‘kelam’ inilah yang nantinya membentuk pemikiran manusia tentang cinta. Dengan jubah pencarian, yang menurut Goenawan Mohamad, terkadang terdengar seperti keraguan dan kebimbangan. Walaupun, bagi pasangan kita malah terdengar sebagai pengkhianatan

“Kemanakah gerimis pagi yang kuimpikan?.”, sambil mencari-cari di semak-semak. Padahal gerimis yang kita ketahui turun dari langit – tempat suci para malaikat.

Karena manusia tak bisa menyimak sebagai subyek yang utuh dan stabil. Sama seperti urusan kitab suci dan takhta. Bagaimanapun manusia menyimpan nafsu dan trauma, hasrat dan ketakutan.

Dan saya sadari, mungkin ini yang terjadi pada kita. Cinta bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Mengubah seseorang menjadi apa yang kita mau. Cinta adalah tentang menerima apa adanya. Kita hanya berusaha untuk membuatnya kembali. Karena cinta yang mengajarkan kita tentang seseorang yang sangat berharga.

 

 

Lalu terakhir, pada saat menyusuri jalan dan terkena gerimis saya sempat mengguman dan mengumpat. Walaupun terselesaikan, saya mengotorinya dan itu bukanlah seperti seharusnya.

Padahal perempuan tetap pada bentuk yang sempurna. Ingin dicintai. Pada sebuah tulisan yang saya ingat sebagian, perempuan itu berkata, “Aku akan menciptakan harapan.”, katanya pada batu hitam. “Merekalah yang bermimpi.”, ungkapan di angkasa.

Terlepas dari itu saya masih mencari dan mencari. Namun buat saya pagi ini, saya senang. Mood menjadi lebih baik saat menatap gerimis pagi.

Semoga bukan hanya gerimis pagi saja yang menyenangkan hari ini.  Menatap hujan sebagaimana mestinya dan bukan dalam bentuk sebagaimana yang diinginkan.

**

Pagi kelam di Salemba

Hujanlah, sayang

Biar airmu jadi dahaga di sela-sela adzan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s