Filsafat Ilmu Pengetahuan 1

Besok, adalah hari pertama saya mengikuti studi S2 di Universitas Gunadarma. Mata kuliahnya adalah Filsafat Ilmu Pengetahuan dan akan diajarkan oleh salahsatu dosen terbaik, Prof Dali S. Naga. Sebenarnya saya kurang paham mengenai filsafat, walaupun saya tertarik dengan filsafat, saya tak sempat mempelajarinya karena pada studi S1 tidak disinggung mengenai filsafat sama sekali.

Jadi saya mencari-cari referensi tentang Filsafat Ilmu Pengetahuan. Lalu saya pikir mengapa tidak saya buat menjadi artikel di blog, barangkali ada kawan-kawan yang membutuhkannya. Mudah-mudahan tulisan ini berguna. Namun sebelum masuk ke filsafat, ada baiknya kita musti tahu definisi tentang Pengetahuan.

Menurut James K. Feibleman, pengetahuan adalah “relation between object and subject.” Sedangkan menurut M.J. Langeveld, pengetahuan adalah kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui. Pengetahuan juga dibedakan menjadi :

  1. Pengetahuan biasa/sehari-hari
  2. Pengetahuan ilmiah
  3. Pengetahuan filosofis
  4. Pengetahuan wahyu
  5. Pengetahuan intuisi

Ilmu pengetahuan (Wissenschaft) menurut Karl Pearson adalah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana mungkin. Sedangkan menurut Ralph Ross mengatakan bahwa, “science is empirical, rational, general, and cumulative; and it is all four at one.”.

Nah, untuk filsafat sendiri secara terminologi sangat beragam pengertiannya. Bahkan Mohammad Hatta dan Langeveld sendiri mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekannya sendiri dalam definisinya. Hal ini bisa dimengerti, karena intisari berfilsafat itu terdaoat dalam pembahasannya, bukan pada definisi. Namun karena kita masih awam, definisi filsafat diperlukan untuk dijadikan patokan awal sebagai pemberi arah dan cakupan objek yang dibahas.

Plato - Aristoteles

        Definisi filsafat yang paling terkenal adalah “..tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada..”, (Plato). Murid Plato, Aristoteles menyatakan bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Sedangkan menurut Imanuel Kant, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercangkup empat persoalan :

  1. Apakah yang dapat kita kerjakan ? (Jawabannya metafisika)
  2. Apakah yang seharusnya kita kerjakan ? (Jawabannya etika)
  3. Sampai dimanakah harapan kita ? (Jawabannya agama)
  4. Apakah yang dinamakan manusia ? (Jawabannya antropologi)

Ciri-ciri utama ilmu pengetahuan sesuai dengan terminologinya antara lain :

  1. Ilmu pengetahuan adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Berbeda dengan iman, pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang gaib, penghayatan serta pengalaman pribadi.
  2. Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri, melainkan ilmu pengetahuan menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis. Oleh karena itu, koherensi sistematik adalah hakikat ilmu pengetahuan
  3. Ilmu pengetahuan tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu pengetahuan dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
  4. Berkaitan dengan konsep ilmu pengetahuan (pengeetahuan ilmiah adalah ide bahwa metode-metode yang berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu.
  5. Ciri hakiki dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu dicapai dengan penggabungan teratur dan terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah.

Setelah dipahami pengertian filsafat, ilmu pengetahuan dan pengetahuan. Maka dapat diambil bahwa Filsafat Ilmu Pengetahuan adalah kajian mendalam tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan, sehingga filsafat pengetahuan dapat menjawab beberapa persoalan seperti

  1. Persoalan dalam landasan dimensi Ontologis (apa yang menjadi objek suatu ilmu),
  2. Persoalan dalam landasan dimensi Epistemologis (cara mendapatkan ilmu),
  3. Persoalan dalam landasan dimensi Aksiologis (untuk apa ilmu tersebut).

Sedangkan menurut Hartono Kasmadi (1990), pengertian Filsafat Ilmu Pengetahuan dapat dirangkum dalam tiga medan telaah, yaitu telaah kritis terhadap metode ilmu tertentu, pencarian kejelasan mengenai dasar-dasar ilmu pengetahuan, dan studi gabungan untuk menetapkan batas tegas mengenai ilmu tertentu.

Tujuan dari Filsafat Ilmu Pengetahuan, yakni :

  1. Mendalami unsur-unsur pokok Ilmu Pengetahuan, sehingga secara menyeluruh dapat dipahami sumber-sumber, hakikat dan tujuan ilmu pengetahuan.
  2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga didapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
  3. Menjadi pendoman bagi para pendidik dan anak didik dalam mendalami studi di perguruan tinggi, khususnya untuk membedakan persoalan ilmiah dan non-ilmiah.
  4. Mendorong para calon ilmuwan untuk konsentrasi dalam mendalami ilmu pengetahuan dan mengembangkannya.
  5. Mempertegas bahwa persoalan sumber dan tujuan antara ilmu pengetahuan dan agama tidak ada pertentangan (Amsal Bachtiar, 2004: 20)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s