Cita-cita Kemandirian Widjajono

Ini saya dapatkan secara kebetulan. Saat saya sedang mencari-cari materi filsafat dasar untuk materi studi S2 yang saya jalani. Filsafat Ilmu Pengetahuan, bagi para pembaca yang punya materi. Saya mohon untuk bisa berbagi ilmu pada saya. Karena saya kurang menangkap dan jujur belajar dari hanya membaca kurang saya mengerti. Mungkin otak saya belum bisa mencerna.

Saking njlimetnya, saya beralih membuka beberapa video di youtube. Mulai dari musik hingga politik. Terakhir saya lihat video dari Prof. J.E. Sahetapy, seorang ahli hukum Indonesia yang sudah berumur. Kita sering meilhatnya di acara Indonesia Lawyers Club. Walalupun sudah berumur, kritikannya masih pedas di telinga orang-orang yang ‘diserang’. Itu yang saya suka.

Secara kebetulan pula, saat itu kamera sedang menyorot pada Wakil Menteri ESDM, alm. Widjajono Partowidagdo. Entah mengapa saya jadi rindu sekali pada beliau. Kita tentu paling ingat dengan gaya busana batik ‘satu-satunya’ dan rambut gondrong beliau. Diantara hampir semua tokoh elit nasional Indonesia saat ini, Alm. Widjajono merupakan anomali yang tidak dapat disamakan.

            Prof. Ir. Widjajono Partowidagdo, M.sc, MA, Ph.D, lahir di Magelang tumbuh menjadi seorang akademisi dan pengamat perminyakan Indonesia. Lulusan akademik ITB ini pernah menduduki posisi-posisi penting. Yang paling tinggi adalah menjadi Wakil Menteri ESDM.

Salahsatu dosen saya yang mengaku satu angkatan di ITB dengan beliau pun pernah menegaskan bahwa Almarhum adalah sosok yang sederhana tapi kritis. “Saya pikir dia adalah ahli minyak terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.”, ungkap dosen saya saat itu. Dengan segudang gelar disematkan di depan dan belakang namanya.

Namun bukan itu yang menarik pemikiran saya. Berbeda dengan Prof. Sahetapy yang paling tidak suka berdebat dengan politisi dan politikus (“politicians a just like gangster” – red), Almarhum Widjajono getol menghadapi perdebatan terkait dengan energi di Indonesia. Yang paling kita kenal saat perdebatannya dengan Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier.

Banyak yang menentang almarhum terkait rencana kenaikan BBM dan berbagai alternatifnya. Namun, jika diberi kesempatan untuk berdebat langsung dengan almarhum, ‘orang-orang’ ini seperti mundur pelan-pelan. Ini poin kedua saya untuk almarhum. Almarhum adalah tipe orang yang senang mengkritik dan dikritik. Namun bukan berarti mengkritik tanpa solusi, malah almarhum sudah menyiapkan beberapa solusi yang bisa diterapkan di Indonesia. Sayang, semua terganjal di birokrasi.

Aristoteles pernah mengatakan, “Saya menyukai pemikiran Plato. Tetapi saya lebih suka terhadap kebenaran.”. Mungkin inilah yang ada pada diri almarhum. Dan kita harus mengakui, kita bukan lagi negara yang kaya minyak. Pahit memang. Tetapi dengan kapasitasnya saat itu, hanya itu yang bisa beliau rubah.

            Jiwa egaliternya patut kita contoh. Sentimen-sentimen negatif terhadap beliau yang dianggap neo-liberalisme dibantah oleh keadaan ekonomi beliau yang dianggap kontradiksi dengan apa yang seharusnya almarhum dapatkan dengan segudang gelar. Justru dengan tetap menjalankan kebijakan seperti sekarang, malah lebih neo-lib. Kalau dianggap pongah/sombong, saya rasa ini pembuktian beliau karena selalu diremehkan oleh orang-orang. Saya justru memandang dengan memanjakan masyarakat, itu yang malah angkuh.

Masyarakat kita sekarang terlalu bergantung kepada BBM.”, -Alm. Widjajono-

Jika boleh saya sampaikan di sini dari apa yang dosen saya katakan sebagai sesama teman dahulu bahwa jika mengenal Pak Wid dari dekat, tidak tampak padanya kesombongan. Pemikirannya jauh ke depan, bukan 5-10 tahun mendatang. Almarhum ingin Indonesia bisa terlepas dari BBM.

Ngapain saya masuk pemerintahan kalo nggak berniat merubah.”, -Alm.Widjajono-

Kematian beliau menjadi sebuah tanda tanya besar di saat rencana-rencana alternatif beliau sudah bisa didengar dan dipahami masyarakat. Kini semuanya seakan lenyap dan tidak terdengar lagi. Sama seperti Soe Hok Gie, almarhum meninggal dunia di keabadian gunung Tambora. Semoga apa yang beliau cita-citakan dapat kita lanjutkan, menuju Indonesia yang mandiri.

One response to “Cita-cita Kemandirian Widjajono

  1. itulah indonesia, masih pada fase saling menjatukan padahal yang seharusnya saling membesarkan, hal itu yg terjadi di organisasi organisasi kemahasiswaan maupun organisasi kepemudaan, indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, tapi sumber daya manusia tidak dipakai untuk mengelolah SDM Nya. inilah kelemahan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s