Tatanan Batik

Saya mengingatnya sebagai hari Selasa, 2 Oktober 2012. Hari dimana saya memulai perkuliahan baru untuk studi S2 saya di Universitas Gunadarma. Semalaman saya baca-baca materi yang kira-kira akan diberikan dosen untuk hari ini. Maklum, dosen mata kuliah ini terkenal keras, bahkan untuk mahasiswa seperti kami di Jurusan Teknik Sipil. Mata kuliah itu adalah Analisis Sistem. Sekilas mata kuliah ini tampak sederhana, dua baris kata namun penuh akan makna.

Membuka gerbang kosan adalah langkah pertama saya hari ini. Langkah baru untuk mencapai mimpi saya untuk belajar di Eropa. Saya sudah selangkah lebih dekat setelah Tugas Akhir S1 saya diuji dalam ruangan besar lainnya. Langkah kaki dipercepat dan kepala menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang. Gang demi gang saya lewati berakhir di jalan besar.

Saya sedikit heran dengan hari ini. Banyak sekali orang-orang berlalu-lalang menggunakan batik. Saya mencoba mengingat-ingat kembali dan meyakinkan bahwa saya tidak sedang dalam time machine yang meloncat ke hari Jum’at – hari yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mengenakan baju batik dalam kegiatan hari itu – walaupun saya lebih suka memakai baju koko di hari Jum’at dan memakai batik di hari Kamis. Barulah saya sadar ini tanggal 2 Oktober, Hari Batik Nasional.

Agaknya jika menganggap batik sama dengan mata kuliah Analisis Sistem, tidaklah salah. Sederhana namun mempunyai makna lebih pada dirinya. Walaupun baru diperingati 4 tahun belakangan sebagai salahsatu Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO sejak Oktober 2009, kita patut bersyukur :: keberadaan budaya kita – yang sempat berebut – diakui.

Saya jadi ingat Hokky Situngkir, seorang pengusaha batik sekaligus penemu. Namanya saya kenal saat saya membolak-balik majalah Tempo edisi Agustus 2012 dalam liputan khusus : Tokoh Penemu. Dia mengatakan bahwa batik bukan ornamen, melainkan lukisan yang bisa disejajarkan dengan karya agung Leonardi Da Vinci, Raphael, atau Michelangelo.

Tak ada batik yang tak ada narasi di belakangnya.”,  -Hokky Situngkir-

Dalam ke-sejarah-an batik Indonesia, sampai sekarang pun masih ada perdebatan, apakah batik berasal dari Indonesia atau ada merupakan campuran kebudayaan dari India atau Srilanka, yang dimana diketahui bahwa pada saat Majapahit sudah terdapat unsur hindu India.

G.P Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini diperkenalkan dari India sekita abad 6-7 Masehi lalu. Sedangkan J.L.A. Brandes dan F.A. Sutjipto percaya bahwa tradisi batik adalah asli daerah, hal ini karena banyak daerah lain di Indonesia yang mempunyai teknik batik, seperti Flores, Toraja, Halmahera dan Papua, daerah yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh hiduisme.

Terkepas dari itu, saya malah berharap bahwa kita akan lebih peka terhadap kebudayaan – bagaimanapun batik adalah budaya Indonesia –  bangsa kita. Bukan mengganggu gugat ketika ada bangsa lain yang ingin mematenkan – dalam kasus batik misalnya.

Ini masalahnya. Kita rupanya baru memaknai cinta khazanah kekayaan budaya dan tradisi, atau nasionalisme, sebatas pada kemauan merawat pada tataran lahiriahnya.”, -A. Dardiri Zubairi-

Namun, pada akhirnya saya tetap senang melihat orang lalu-lalang menggunakan batik. Tua, muda, laki-laki, perempuan, pekerja kantoran atau pelajar.  Ketika memakai batik, sebenarnya kita telah merepresentasikan makna hal di dalamnya. Kita secara tidak langsung me”renkarnasi” batik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s