Ruangan Besar Lainnya

Malam itu saya sempatkan tidur selama 2 jam. Dari jam sembilan malam sampai jam sebelas lebih lima belas menit. Penat terasa ketika semua yang sudah saya persiapkan secara ‘sempurna’ dikenai revisi oleh dosen pembimbing. Rencana tidur normal untuk persiapan mental diganti dengan perombakan pembahasan tugas akhir poin 5.1.3.

Di sana ada beberapa catatan yang mengharuskan saya mengecek ulang struktur yang saya kaji karena ada beberapa yang tidak masuk menurut perhitungan beliau. Walaupun pada akhirnya saya terselamatkan oleh ‘Tangan Tuhan’ :: di jam-jam terakhir saya menemukan kesalahan pada tugas akhir saya.

Inilah yang mungkin dikatakan perbedaan perspektif. Ketika kita menganggap sesuatu sempurna, bukan berarti hal yang sama untuk orang lain.” –Alan Feirras Reftaditya-

Keesokan harinya adalah hari terpenting yang pernah ada dalam sejarah hidup saya. Tugas akhir yang sudah saya kerjakan selama dua bulan penuh akan dikritik habis-habisan. Dan karena ada beberapa poin revisi itu pula saya datang telat. Ban depan motor saya bermasalah sehingga tak bisa diajak berlari kencang. Terhitung 45 menit saya telat. Beruntung saya dipanggil jam kedua.

Tibalah waktunya untuk saya mempertahankan tugas akhir di hadapan dosen penguji dan ‘manusia pembela’ saya. Mengenakan kemeja putih-dasi biru-celana hitam yang saya pinjam dari seorang teman, saya memulai pembicaraan secara seksama. Tempo yang sesingkat-singkatnya itu tidak saya alami. Waktu terasa panjang. Teori relativitas berlaku pada saya hari itu. Namun saya melakukannya dengan baik.

Sebenarnya saya agak malas menulis hari ini. Setelah dikuras semalam dan hari ini oleh Sidang Akhir untuk S1, raga ini akhirnya collapse. Tapi kami musti bertahan selama beberapa jam lagi untuk menunggu keputusan rapat Komite Sidang Akhir :: apakah kami lulus atau tidak. Tentu kami berharap semua lulus tanpa revisi. Akan tetapi agak mustahil sangkaan saya.

Tulisan terakhir saya banyak yang menyukainya, terutama teman-teman sejahwat sewaktu di kota pesisir dahulu. Mereka ingin saya menulis apapun. Jadi sambil menunggu waktu pulalah saya menulis kembali. Di tengah kegundahan dan diam kawan-kawan satu angkatan. Saya mencoba menulis.

Pada akhirnya, saya senang saya lulus dengan dua poin revisi. Itu angka yang bagus. Bahwa di ruangan besar itu hasil diumumkan. Tapi bukan berarti ke-‘senang’-an itu saya puas.

Mau tak mau, dengan seluruh kecerdasan kita, kita selamanya ada dalam sesuatu yang “somatis”, yang jasmani, yang kadang-kadang merasakan lapar dan dahaga, dan memandang dunia dengan kondisi itu.” –Goenawan Mohamad-

Saya tidak puas karena saya tahu dengan batasan maksimal yang saya miliki harusnya bisa lebih baik dari itu. Namun dengan ini pula saya selangkah lebih dekat untuk mencapai mimpi saya, Eropa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s