Zona Nyaman Kami 5 x 7 Meter

Ketika saya diberitahu bahwa saya hanya punya waktu tidak sampai 3 bulan untuk menyelesaikan skripsi, saya hanya bisa menghela nafas. Satu kelas mendadak diam, diam yang penuh arti. Lalu beberapa detik kemudian kelas menjadi ramai berbisik. Sebagian ada yang bersuara lantang. Berita itu datang terencana dari salahsatu koordinator program percepatan yang saya ikuti, Ibu Fanny.

*nyruputkopi*

*bakarmenyan* #eh

Sebenarnya, ucapan Ibu Fanny ini sudah diperkirakan oleh kami, mahasiswa Sarmag. Tetapi suasana kelas yang dingin karena 2 buah Air Conditioner yang disetel 16 derajat celcius terlalu dingin bagi kami yang memiliki ‘hati dingin’ (baca : jomblo; walaupun tidak semua) dengan ukuran kelas 5×7 meter. Agaknya menjadi lebih punya makna tersendiri.

Apa boleh buat. Kami tak bisa berdebat untuk yang satu ini. Lagipula manusia diciptakan untuk berpikir. Berpikir bagaimana saya bisa menyelesaikan skripsi dengan tema yang saya angkat : struktur bangunan, bisa selesai dalam waktu tidak lebih dari 3 bulan. Begitupun dengan yang lain.

Skripsi atau Tugas Akhir adalah persyaratan mutlak untuk lulus studi S1. Program kami yang ‘khusus’ membedakan dengan mahasiswa lain dalam banyak hal. Tentu skripsi ini juga punya sifat yang beda : musti cepat dan ekspetasi tinggi dari dosen penguji. Kita juga dituntut lebih aktif dari sebelum-sebelumnya.

Secara hitung-hitungan, anggap waktu yang diberikan adalah tiga bulan mulai Juli hingga September. Lalu dipotong libur Hari Raya Idul Fitri 2 minggu, saya juga musti ngurus hal-hal lain. Intinya saya musti menyelesaikan skripsi ini 2 bulan. Gila! Mahasiswa mana yang bisa selesai skripsi dua bulan, terlebih dengan tema yang saya angkat.

Membayangkan ini saja membuat saya pening. Belum lagi kehidupan saya di tengah Jakarta Pusat alias Salemba (baca : Salemba Tidak Selamanya Sengsara). Lalu yang menariknya adalah saya baru menyadari situasi macam ini alias keadaan. Nah, keadaan yang saya maksud ini adalah ketika saya dipaksa untuk ‘keluar’ dari zona nyaman.

Tapi ini bukan curhat kok. Sekedar contoh cerita dari kejadian nyata. Sesungguhnya sudah ada senior saya di program yang sama, mengangkat tema yang sama bisa selesai kok dalam waktu kurang dari tiga bulan. Cuman emang anaknya jenius (banget).

Kembali lagi,

Selama ini kita tidak dilatih untuk menghadapi keadaan ketika kita ‘terpaksa’ keluar dari ‘zona nyaman’. Kita tak punya rencana apapun untuk itu, walaupun sebenarnya kita sudah tahu bahwa suatu saat nanti kita keluar dari ‘zona nyaman’ yang kini kita tempati. Sekalinya pun punya rencana, kebanyakan dari kita membuatnya tiba-tiba saat kita sudah bertatap muka dengan keadaan keluar dari ‘comfort zone’.

Dan sebuah syair mengatakan : “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok”.

#JLEB.

Kena banget nih kalimat. Ibarat hati sudah terkena busur panah.

Mengapa?

Karena saya sudah diberikan sebuah otak untuk berpikir, yang bahkan dari cerita di atas, saya sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan oleh sang koordinator. Dua tangan untuk melakukan banyak hal. Dua kaki untuk melangkahi banyak tempat.

Lalu saya coba cermati. (gaya Jokowi). Tenyata, cuman dua hal yang tidak saya punya sebelumnya agar tidak terkaget-kaget dengan keadaan semaca keluar dari zona nyaman.

Pertama, kemauan.

Kedua, keberanian.

Nah, dari sini, mudah-mudahan pembaca bisa menangkap apa yang saya ingin sampaikan. Nggak musti diceritainlah seterusnya mah. Kalian-kalian kan pada ganteng-ganteng , cantik-cantik, unyu-unyu cemunguutdh.

Intinya, sesekali kita musti keluar dari zona nyaman yang sekarang kita tempati. Toh, apa salahnya sih. Hidup kan nggak ada yang tahu. Ada saat di atas, ada saat di bawah. Kemauan dan keberanian.

Terakhir, izinkan saya mengutip Firman Allah yang sangat menarik untuk direnungkan :

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (Al-An’am, ayat 31)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s