Salemba Nggak Selamanya Merana

*garuk-garuk kepala*

Gue paling bingung kalau menulis kalimat pertama dari tulisan yang gue buat. Padahal lagi mood banget buat nulis. Dan bagian ini yang sebenernya paling males gue buat. Ingin sekali-kali langsung cerita ke inti topik tulisan. Tapi itu nggak bisa. Kenapa?

Karena semua cerita harus ada awal. -the end-

Oke, jadi yang belum tahu nama gue Bagus Prahutdi. Putra daerah yang terkenal macho dan ganteng (sudah saatnya gue berani memuji diri-sendiri). Pecinta wanita tulen, paling alergi sama spesies banci dan gay. Tukang tidur yang nyasar kuliah sampai ke depok.

*UI, bang?*

Bukan, sebelahnye. Agak belok dikit. Tapi sekarang gue kuliah di Salemba dan nge-kost di sana.

Untuk lebih jelas, silahkan baca profil gue. Baca aja, nggak ada 3 menit kalau mau baca. Dan gue nggak maksa kalian buat baca kok. Ya, barangkali mau baca. (over)

Saat gue nulis ini catatan, gue lagi ada di depok. Sambil minum secangkir kopi murah 500 perak dan meratapi skripsi gue yang sifatnya fast-track alias kecepetan. Walaupun sebenernya gue tahu bahwa skripsi itu bukan untuk diratapi, tetapi untuk dikerjakan dan selesaikan. Biar gue nggak dikira bohong (no picture = hoax), gue kasih gambarnya.

Kali ini gue nggak mau kaku, karena ini 80% murni curhatan gue. Bahasa yang gue pake sekarang keluar dari ranah ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kembali ke laptop! (gaya Tukul Arwana).

Udah empat lima hari gue numpang di kontrakan temen gue di depok dan jadi pesakitan karena siangnya cuman buat tidur nggak keluar-keluar rumah membuat gue jadi semacam hewan malam : burung hantu yang kerjanya cuman di malam hari. Dan gue nggak mau dibilang kalong atau kelelawar.

Dan di saat gue merasa nggak punya muka malu karena ngerepotin temen gue ini (karena kata Nabi SAW wajarnya nginep di rumah orang itu 3 hari, Jadi kalian bisa bilang gue nggak wajar).

Tiba-tiba gue kangen sama Salemba… *suara petir*

**

-satu tahun yang lalu-

Suatu hari di tempat tongkrongan yang agak sunyi, kita udah merasa beken karena seenggaknya udah dua tahun menetap di depok menjadikan kita anak yg lebih gaul dan senior. Saking gantengnya, kita bisa godain junior-junior cewe yang mau pulang, dan ngajak berantem junior-junior laki-laki yang lewat. Sayangnya kita nggak seberani itu.

Pokoknya kita udah nyaman banget di Depok. Depok ibarat rumah sendiri. Mau makan ke warteg Mang Udin. Mau main tinggal ke kosan depan yang banyak anak cewe pada main. Mau nongkrong tinggal pilih : Margo City? Detos? ITC? Gramedia? Atau nongkrong di Jembatan Kelapa Dua?.

Namun semua itu buyar, kawan. Ketika ada koordinator kami yang membawa kabar ‘buruk’ itu. Kelas kami yang sudah kami anggap sebagai rumah kedua kami serasa seperti Sekolah Hogwarts-nya Harry Potter lagi dibayangi kedatangan Voldemort si hidung rata. Kami ibarat murid-murid Hogwarts yang baru masuk dan sangat polos. Kami disuruh pindah ke Salemba, Jakarta Pusat. Spontan kami protes untuk masalah ini.

Pertama, jelas biaya hidup di Salemba jauh lebih mahal. Mulai dari makan dan minum hingga sewa kost per bulannya. Apalagi bagi yang punya pacar, ongkos biaya telepon operator yang janjiin murah tapi nyatanya…. *speechless*. Untungnya gue nggak masuk ke dalam kategori itu.

Kedua, kami udah nyaman banget di Depok. Secara kasar kami harus keluar dari zona nyaman.  Dan ini nggak enak banget. Terlebih pindah kost ke sana akan menghabiskan waktu yang nggak sebentar.

Ketiga dan seterusnya..cuman nambah gue jadi lebih galau.

Saat itu alasan dari pihak kampus karena kelas kami akan dijadikan ruangan untuk kelas mahasiswa baru dari program kami. Oia, kelas kami itu sudah jadi kelas tetap dimana khusus untuk kami. Jadi memang sudah kami anggap sebagai rumah kedua karena selama 9 jam kami berada di sana senin-sabtu. Kelas di kampus Depok terbatas dan banyak kelas kosong di Salemba. Kampus yang difungsikan sebagai kampus anak-anak S2.

Akhirnya, pihak kampus mengatakan akan memberikan kompensasi kepada kami sesuai dengan kemampuan ekonomi kami. Dan kami nurut.

**

Nah, sekarang, gue tinggal di Salemba. Pusat tengah Ibukota Jakarta yang terkenal kejam buat orang yang nggak tahu apa-apa tentang Jakarta. Jakarta yang macet penuh polusi. Pertama kali gue datang ke Salemba, melihat-lihat anak-anaknya gaul semua. Malam minggu mereka mainnya bukan di mall, tapi mainannya ke Kelapa Gading. Beuuuuhh. Buat mereka biasa, buat gue nggak bisa, maksud gue belum bisa.

Gue hidup hampir satu tahun di Salemba dengan segala keterbatasan sebagai manusia. Sebisa mungkin gue nggak mau ngeluh. Karena intinya adalah gue di sini buat belajar. Nggak mau nyinggung kompensasi kampus yang nggak turun-turun. Gue udah ngerasa beruntung banget dapat beasiswa sekolah di sini. Ingat kata-katanya Soepriyadi, “Belajarlah tanpa mengeluh!”. Dan akhirnya, malam ini gue dapat pencerahan.

Salemba nggak selamanya merana!

*Lho kok?*

Kawan, Tuhan itu Maha Baik kok. Sang Pencerah kalau kata si Giring. Memberi mahluknya pembelajaran lewat media apa saja, saat keadaan apa aja. Tuhan nggak akan ngasih ujian kelewat dari batas kita sebagai manusia. Buktinya, gue masih hidup sampai sekarang.

Alhamdulillah,

Gue coba untuk menghemat. Mulai dari nasi masak sendiri, kurangin rokok yang gue konsumsi dan beralih ke rokok kretek. Kosan gue bagi berdua biar dapat harga yang lebih murah. Sampai beli lauk yang murah dan bervariasi, sampai mbak-mbak warteg hafal dengan muka gue dan bilang, “Lauknya aja ya mas.”, dan gue dengan bangga menyahut, “Iya mbak!”.

Lalu hikmah yang gue dapat dan secara sadar gue tulis sekarang. Hidup di Salemba itu asyik.

Pertama, kita bertemu orang-orang dengan karakter berbeda setiap saat. Dari mereka kita bisa mendapatkan cerita dan pengalaman. Jadi sering-seringlah sharing bareng. Pembelajaran kan bisa lewat mana saja. Gue kenalan dan ngobrol dengan orang-orang yang sudah berkeliling Asia dan Eropa. Ada yang bercerita tentang pengalaman kerjanya di Malaysia dan Singapura. Bercerita bahwa betapa tertinggalnya Indonesia dibanding dua negara itu. Sampai masalah pokok laki-laki : Perenpuan dan Cinta. Wawasan gue berkembang secara pesat.

Kedua, saya merasa lama-kelamaan jadi terlatih dalam keadaan under pressure alias di bawah tekanan. Semakin saya percaya diri dan tertantang untuk mencoba hal baru yang positif tentunya.

Ketiga, setelah melewati dua hal di atas. Gue semakin mengenal hidup. Rasa pertemanan, kerja keras, pantang menyerah, kegagalan dan bermacam lainnya. Gue dituntut untuk benar-benar keluar dari zona nyaman (Baca : Zona Nyaman Kami 5 x 7 meter).

Buat jomblo, di Salemba banyak kaum hawa yang sendirian lho. Tapi kalian juga musti pandai ngedeketin. Mau yang cantik? Biasa aja? Kaya? Dokter? Bidan? Udah kerja?. Tapi gue nggak ngajarin kalian buat jadi pemain cinta ye, cuman bilang itu doang.

Pelajaran yang gue dapat, setiap hal punya sisi positif dan negatifnya masing-masing. Namun sisi positif itu terkadang tak terlihat oleh kita jika kita merasa itu hanya menambah beban.

Sekian dan Terimakasih. Salam ganteng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s