Warisan Rasul : Perkataan yang Baik

Bismillahirrahmanirrahiim

Wasiat Rasul SAW ::

“Perkataan yang Baik”

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW , beliau bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari-Muslim)

Pembaca yang budiman.

Berbicara adalah alat komunikasi yang paling sering digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Saling menyapa, menelpon kerabat, atau mungkin berbelanja di pasar dan sedang asyik-asyiknya tawar-menawar. Kita terkadang terlalu penyepelekan lisan yang keluar dari mulut kita.

Pembaca yang hatinya merindukan keselarasan dalam hidup.

Namun hendaknya dalam berbicara atau berkata-kata pun, kita diajarkan oleh Baginda Muhammad SAW untuk menjaga setiap lisan yang keluar dari mulut kita.

Jika apa yang dikatakan oleh lidah kita adalah suatu kebaikan, maka untuknya adalah pahala. Akan tetapi jika apa yang dikatakan oleh lidah kita adalah suatu keburukan, maka itu adalah dosa yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Subhanallah, wasiat beliau yang agung ini sudah selayaknya kita laksanakan bukan hanya bagi ummat islam saja, tetapi juga seluruh ummat manusia di muka bumi. Karena pada dasarnya sikap inilah yang menjaga keharmonisan, perilaku kita, akhlak kita, dan membuat hidup kita lebih sederhana.

Bukankah banyak permasalahan di dunia ini, peperangan dan perpecahan berawal dari ucapan yang tidak menyenangkan ?. Berbicara berlebihan ! . Astaghfirullah hal adziim…wahai jiwa bernama aku. Bukankah di sampingmu kini ada malaikat yang siap mencatat segala ucapan kita ?. Dan akan dihisab nanti di akhirat.

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan kalimat yang diridhai Allah, yang tidak terpikirkan sebelumnya, namun dengannya Allah akan mengangkat derajatnya. Dan seorang hamba berkata dengan kalimat yang dimurkai oleh Allah, yang tidak terpikirkan sebelumnya, namun dengannya ia akan jatuh ke dalam neraka Jahannam.” (HR Bukhari-Muslim)

na’udzubillahimindzalik

Dalam Islam, sedikitnya ada tiga adab yang mengatur tentang berbicara, yaitu :

  1. Tidak berkata yang diharamkan oleh Allah dalam kondisi apapun.
  2. Tidak memperbanyak perkataan yang mubah
  3. Wajib berbicara pada saat diperlukan, terutama jika berkaitan dengan nahi munkar.

Lalu bagaimana jika kita sudah mengetahui balasan bagi yang berkata-kata bahkan untuk yang terlintas dipikirannya ?.

Hendaknya ucapan yang kita keluarkan adalah dzikir atau diam merenung. Barangsiapa yang menjaga lisannya, maka Allah akan memudahkan baginya mengucapkan kalimat syahadat menjelang kematiannya. Akan tetapi, barangsiapa yang menjulurkan lidahnya untuk membuka-buka aib-iab orang lain, maka Allah akan menahan lidahnya untuk mengucapkan syahadat menjelang kematiannya.

Sebelumnya, marilah kita merenung sebentar. Banyak sekali permasalahan yang kita hadapi, kesulitan dalam belajar dan bekerja kita. Kita sering dihina orang lain. Kita yang sering tak nyenyak tidurnya karena lisan kita yang buruk menghina orang lian. Mungkin itu imbas dari kita yang terlalu banyak berbicara. Dan terlalu banyak menghina dan mencela saudara-saudara kita yang lain.*

Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang tergelincir lisannya di dunia dan tertutup rapat menjelang kematian.

Firman Allah :

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18)

Hadist :

“ Surga akan rindu kepada empat orang : pembaca Al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang yang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramdhan.” **

Subhaanaka laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘alamtanaa innaka anta al-‘aliim al-hakiim

**Hadist ini berasal dari kitab Raunaq al-Majalis , di mana belum dapat ditemukan perawinya. Raunaq al-Majalis merupakan kitab cerita/hikayat. Karena itu kemungkinan hadist ini hanya buatan si pembuat cerita. Namun keempat golongan yang dikatakan dalam hadist ini benar-benar dinyatakan dalam dalil lain termasuk ahli surga. Hanya saja, apakah surga benar-benar merindukan mereka, atau Rasul pernah menyampaikan kata-kata seperti ini? Belum dapat ditemukan hadist yang mengisyaratkan ke arah itu.

*Sesaat sebelum menyelesaikan tulisan ini, penulis secara tidak sengaja sedang mendengarkan sebuah lagu indah dari (Alm.) Chrisye “Ketika Tangan dan Kaki Bicara”.

Sumber :

Kitab Washaya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam lirrijal ;

Koleksi Risalah Nur : Al-Lama’at, menikmati hidangan langit ;

Majalah Gontor, Media Perekat Umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s