Materi Kuliah Umum FTSP Universitas Gunadarma, 12 Desember 2009

Berbagi pengalaman dengan orang asing di N.A.D

Oleh : Sutoyo

Dirangkum : Bagus Prahutdi

 

Materi yang akan dibahas kali ini berupa pengalaman yang didapat saat beliau bekerja dengan orang asing untuk membangun rumah tahan gempa. Di mana beliau diminta untuk membuat desain rumah tersebut hampir di seluruh wilayah di propinsi N.A.D. Bekerja sama dengan organisasi dan consultant level dunia. Seperti BRCS ( Palang Merah Inggris ), ARC ( Palang Merah Austrlia ), Mott MacDonald, dll. Beliau dipanggil ke Aceh beberapa hari setelah terjadi bencana Aceh yang menelan korban hingga 120.000 jiwa dan kerugian materil yang tidak terhitung. Setelah proyeknya terbangun, beliau pulang ke Jakarta. Namun, berkat tangan dingin beliau. Beliau dipanggil kembali untuk menangani proyek perumahan tahan gempa. Di mana jumlah perumahan yang dibangun mencapai 5000 unit yang tersebar di hampir seluruh wilayah N.A.D. Beliau juga membangun sebuah pelabuhan kecil di pulau Breuh. Pada kali ini beliau menuturkan pengalamannya. Semoga bermanfaat. Sebelum masuk ke dalam materi. Saya akan menjelaskan sedikit tentang gempa dan bagaimana gempa bisa terjadi di Aceh. Kata yang saya ambil pertama adalah Ring of Fire. Tentu bukan hal yang baru bagi anda. Karena kita sering mendengarnya dari pemberitaan, para ahli, atau mungkin obrolan kita sehari-hari. Tetapi apa arti dari Ring of Fire itu sendiri. Ring of Fire adalah julukan bagi kawasan yang masuk dalam lingkaran gunung berapi yang berada di Samudera Pasifik , di mana di wilayah ini sarat akan aktifitas perut bumi. Jika kita melihat secara geologis, Indonesia terletak pada jalur Ring of Fire. Selain terletak pada kawasan Ring of Fire. Indonesia juga terletak di Asian Plate ( Lempengan Asia ) paling selatan. Atau terapit oleh dua lempengan besar lainnya. Yakni, Hindia Australia Plate dan Pasific Plate. Jadi seharusnya kita tak perlu terlalu heran jika banyak sekali gempa dan gempa yang berpotensi tsunami di Indonesia. Akan tetapi mengapa baru sekarang sering terjadi ? . Hal ini disebabkan oleh Ring of Fire, serta kekuatan Energi yang dikeluarkan oleh tiga lempengan besar mengendap selama selang waktu tertentu. Dan akhirnya energi yang besar itu terlepas, lempengan tidak kuat menahan, dan terjadilah gempa. Atau kita lebih mengenal kata Subduction, yakni proses lempengan yang menghujam ke bawah. Subduction sendiri terbagi menjadi dua, yaitu plastis dan elastis. Subduction Elastis adalah patahan yang sering menyebabkan gempa terjadi. Indonesia membagi wilayahnya menjadi enam dalam kategori gempa : Wilayah 1 : 0,03 x gravitasi Wilayah 2 : 0,10 x gravitasi Wilayah 3 : 0,15 x gravitasi Wilayah 4 : 0,20 x gravitasi Wilayah 5 : 0,25 x gravitasi Wilayah 6 : 0,30 x gravitasi Adapun data gempa yang terjadi di NAD : Tanggal dan waktu : Minggu, 26 Desember 2004, jam 07.59 WIB Magnitude : 9,0 Skala Richter Pusat gempa : 3,307° LU 95,947° BT dengan kedalaman 30 KM Di samping itu ada beberapa syarat suatu gempa yang berpotensi Tsunami, yaitu : Kekuatan gempa di atas 6,3 SR Pusat gempa berada di lautan Kedalaman dangkal, yakni >40 KM Terjadi deformasi vertikal Jelas sekali bahwa gempa yang terjadi di Aceh telah memenuhi syarat di atas, sehingga dapat berpotensi Tsunami. Tanda-tanda datangnya Tsunami di pantai setelah terjadi gempa di lautan : Air laut yang surut secara tiba-tiba Bau amis yang sangat menyengat Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras Sebenarnya fakta yang menunjukkan pada waktu itu menunjukkan ciri-ciri dan keadaan seperti di atas. Namun, sebenarnya dapat dihindari untuk korban tsunami yang menelan korban banyak jika mereka wapada. Hasil penyelusuran di lapangan. Karena pada saat itu, selang waktu dari terjadinya gempa hingga Tsunami sampai ke pantai terdekat sekitar 20 menit ( Kecepatan Tsunami pada waktu itu ±800 KM/jam atau setara dengan kecepatan Pesawat Boeing 747 ). Lalu bagaimana cara mengantisipasi suatu bangunan agar tahan terhadap gempa ( dalam hal ini memang ada bangunan yang tahan gempa, tetapi tidak ada bangunan yang tahan terhadap Tsunami . Karena hampir semua bangunan yang ada di Aceh saat itu luluh lantah akibat Tsunami. Hanya ada puluhan bangunan yang hancur akibat gempa karena strukturnya kurang kuat atau tanah yang tidak seimbang ). Dasar-dasar Perencanaan bangunan tahan gempa Apa tujuan dibuatnya bangunan yang tahan gempa ? Mencegah timbulnya korban jiwa Mencegah timbulnya kerugian harta benda Bagaimana pengaruh gempa teradap konstruksi suatu bangunan ? Dalam keadaan statis Suatu bangunan akan memikul beban gravitasi dari : Berat sendiri ( Wt ) Beban hidup Dalam keadaan gempa Akibat gempa, terjadi suatu getaran yang menimbulkan percepatan pada permukaan tanah yang langsung mempengaruhi konstruksi bangunan dan menimbulkan gaya horizontal pada bangunan Setelah itu tegantung pada bahan bangunan yang ada pada suatu bangunan. Karena setiap konstruksi bangunan memakai berbagai macam bahan yang tentu mempengaruhi kekakuan bangunan tersebut. Kombinasi dari bahan bangunan tersebut yang menyebabkan perbedaan percepatan pada suatu bangunan. Jika bangunan tersebut kaku. Maka pergerakannya dapat dipastikan akan mengikuti gera tanah. Akan tetapi dalam hal ini tidak ada juga bangunan yang kaku secara sempurna. Tiga macam gaya yang bekerja pada suatu bangunan saat terjadi gempa : Gaya Inersia Massa x percepatan yang dialami bahan bangunan. Gaya Inersia menyebabkan terjadinya perpindahan relatif. Gaya redaman Faktor redam x kecepatan . Gaya redaman ini melawan gaya Inersia yang terjadi. Gaya redaman juga tergantung pada jenis bahan dan sistem konstruksi. Gaya pegas Konstanta pegas x perpindahan relatif. Gaya pegas ini berusaha untuk mengeliminir perpindahan relatif tadi. Dan menimbulkan tegangan-tegangan dalam unsur bangunan. Ketahanan suatu konstruksi ditentukan oleh empat faktor : Massa / berat bangunan; semakin berat suatu bangunan, semakin besar pula persentase keruntuhannya. Kekuatan / mutu bahan bangunan; sebaiknya jika ingin mempunyai bangunan yang kuat, gunakan bahan-bahan yang bermutu tinggi. Walaupun mahal sekalipun. Kekakuan konstruksi; semakin kaku, maka semakin susah pula bangunan akan runtuh saat terjadi gempa. Mutu pelaksanaannya; dalam artian jika kita membangun suatu konstruksi haruslah sesuai dengan target waktu yang sudah direncanakan. Jika lebih cepat, maka lebih baik. Tetapi dalam waktu yang singkat itu pula perlu diketahui bahwa pekerjaan yang telah dilakukan memenuhi standar kerja. Agar ketahanan suatu konstruksi bangunan kuat dan kokoh. Diperlukan beberapa langkah dalam pelaksnaannya : Hindari sejauh mungkin penggunaan material yang berat. Hindari mungkin kekakuan konstruksi yang besar. Sangat bijaksana jika membangun sebuah konstruksi dengan kekakuan sederhana agar lebih elastis. Penggunaan bahan-bahan yang bermutu tinggi . Pergunakan cara pelaksanaan konstruksi yang sesuai dengan persyaratan yang diberlakukan. Mutu : Kesesuaian antara aktualisasi dengan spesifikasi yang direncanakan. Setiap bagunan juga harus memenuhi standat BMW-S, yakni Biaya-Mutu-Waktu-Safety ( keamanan ) Denah bangunan : Denah bangunan sedapat mungkin berbentuk sederhana. Sedapat mungkin denah dibuat simetris Perbandingan antara lebar dan panjang tidak terlalu besar 0,2 L ≤ B ≤ L ; B : beban ; L : panjang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s