Perkembangan Peta Gempa di Indonesia

Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peran ini, semakin berarti dalam menghadapi isu-isu global yang berpengaruh pada penyelenggaraan pembangunan di Indonesia.

Di bidang ekonomi, kita dihadapkan pada berkembangnya perdagangan bebas yang menuntut kita untuk terus memperkuat daya saing nasional agar dapat berperan dalam persaingan global. Berkaitan dengan hal ini, infrastruktur merupakan komponen sangat sentral dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks ini, penguasaan iptek adalah hal mutlak untuk mendukung pengembangan dan percepatan pembangunan yang berkualitas dan efisiensi proses pembangunan infrastruktur.

Isu global yang berkaitan dengan perubahan iklim (climate change) merupakan pokok bagi pengembangan iptek untuk mengkaji dampak timbal-balik dari proses pembangunan dan fenomena perubahan iklim serta mengembangkan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi untuk mengurangi dampak negatifnya.

Perubahan iklim tidak terjadi secara tiba-tiba, akan tetapi terjadi karena rentetan kejadian dan dampak akibat tingginya pencemaran lingkungan. Industralisasi, pembangunan dan aktifitas bermukim merupakan kontibutor yang siginifikan terhadap terjadinya proses degradasi lingkungan.

Selain fenomena perubahan iklim, akhir-akhir ini kita sering dihadapkan pada masalah bencana alam seperti gempa, banjir, tanah longsor, angin bandang dan kekeringan.

Kita ketahui bahwa secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng besar dan sembilan lempeng kecil lainnya yang membentuk jalur-jalur pertemuan yang kompleks. Keberadaan interaksi antar lempeng-lempeng ini menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap gempa bumi. Tingginya aktifitas kegempaan di Indonesia dapat terlihat dari hasil rekaman dan catatan 1900-2009 yang menunjukkan lebih dari 50.000 kejadian gempa dengan magnituda (M) > 5.0 SR (Skala Richter), bila dalam analisa setelah gempa dihilangkan gempa ikutannya, terdapat 14.000 gempa utama (Main Shocks).

gempa utama di Indonesia 1900-2009

Gempa besar enam tahun terakhir :

  1. Gempa Aceh (2004) Magnituda 9,2 SR.
  2. Gempa Nias (2005) Magnituda 8,7 SR.
  3. Gempa Yogya (2006) Magnituda 6,3 SR.
  4. Gempa Padang (2009) Magnituda 7,6 SR.

Di samping itu ada beberapa gempa yang lebih kecil lainnya tetapi cukup merusak, seperti gempa Nabire, Manokwari, Tasikmalaya dan Gorontalo. Gempa-gempa tersebut telah menyebabkan timbulnya ratusan ribu korban jiwa dan kerusakan infrastruktur bernilai trilyunan rupiah.

Indonesia pertama kali memiliki peta hazard gempa pada tahun 1983, yaitu pada Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung. Peta gempa ini membagi Indonesia menjadi enam zona gempa. Peta tersebut diperbaharui tahun 2002 dengan keluarnya Tata Cara Perencanaan Tahan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI-03-1726-2002. Peraturan pengganti ini disusun dengan mengacu pada UBC 1997 dan peta gempa yang telah diperbaharui berupa peta percepatan puncak atau Peak Ground Acceleration (PGA) di batuan dasar untuk probabilitas terlampaui kejadian sebesar 10% dalam 50 tahun masa layan bangunan gedung atau bersesuaian dengan perioda ulang gempa 500 tahun.

Peta zonasi gempa 2010 yang terbaru, dapat digunakan sebagai dasar perhitungan struktur bangunan gedung menggantikan peta tahun 2002. Peta ini disusun dengan model analysis Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) yang memodelkan sumber gempa secara tiga dimensi (3D), pendekatan probabilitas dan deterministik. Peta yang dihasilkan adalah peta PGA dan spektra percepatan untuk perioda (0,2 detik) dan perioda panjang (1 detik) dengan kemungkinan terlampaui 10% dalam 500 tahun, 10% dalam 100 tahun dan 2% dalam 50 tahun yang mewakili tiga level hazard (potensi bahaya) dari sumber gempa sesar.

Revisi SNI 03-1726-2002 yang sedang diselesaikan menggunakan acuan dasar International Building Code (IBC) 2009 dengan American Society of Civil Engineers (ASCE) 07-2010 sebagai metode perhitungan struktur bangunan gedung tahan gempa dengan konsep Perancangan Berbasis Kinerja (Performance Base Design). Konsep Perancangan Berbasis Kinerja merupakan metoda yang mengutamakan efisiensi dan efektivitas dalam pembangunan bangunan gedung dan infrastruktur pekerjaan umum dan pemukiman.

Peta Zonasi Gempa Indonesai 2010 ini disusun sebagai upaya mitigasi bencana Gempa Bumi untuk mengurangi kerugian terhadap bencana dan akan menjadi acuan dalam perencanaan dan perancangan infrastruktur di Indonesia, termasuk jalan dan jembatan, pelabuhan, bandar udara, prasarana pembangkit tenaga listrik, telekomunikasi, irigasi, air bersih, sanitasi dan bangunan gedung.

3 responses to “Perkembangan Peta Gempa di Indonesia

  1. Menarik berbicara tentang peta gempa. Dan tulisan anda adalah salahsatu dari beberapa situs yang pertama kali mempublikasikan tentang peta gempa.
    Yang saya ingin tanyakan adalah Bagaimana potensi Jakarta dalam masa pembangunan terkait dengan peta gempa 2010.
    Yang kedua mohon tampilkan gambar peta 2010.

    • Terimakasih bapak Aji.
      Sebenarnya saya belum terlalu mengenal tentang hazard kegempaan di Indonesia.
      Jika ditanyakan potensi Jakarta jelas masih sangat besar. Namun terkait dengan peta gempa 2010 bangunan di Jakarta didirikan harus sesuai dengan standar dan faktor keamanan yang telah dibuat menggantikan peta gempa tahun 2002.
      Nanti akan saya upload gambarnya bapak Aji.
      Maaf jika jawaban saya kurang memuaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s